Kamis, 15 November 2018

Potret Candi Pundong


Selasa, 15 November 2016

Candi Pundong : Situs Cagar Budaya Mataram Kuno

Situsbudaya.id



Candi Pundong terbuat dari batu bata, kondisi saat ini sudah tidak utuh lagi hanya meyisakan kaki candi dengan denah persegi dan memiliki ukuran 495 cm x 495 cm. Dan pada bagian tangan dari candi terdapat sumuran berbentuk persegi, pada sumuran ini juga di temukan peripih dan batu andesit. Dikathui candi pundong ini temukan pada pertengahan tahun 2007. Candi ini tertimbun oleh tanah, dan oleh karena itu candi ini berada dalam kotak galian dengan kedalaman kurang lebih 1 m dari permukaan tanah.
Asal usul terbuatnya candi Pundong ini belum di ketahui secara pasti sampai sekarang. Dan secara umum ada dua pendapat bahwa candi pundong merupakan peninggalan dari masa Pemerintahan Pu Sindok raja Kerajaan Medang periode Jawa Timur. Pendapat ini didasarkan pada lokasi Desa Pundong yang terletak tidak jauh dari Desa Watu Galuh. Toponim “Watu Galuh” tercatat dalam beberapa prasasti keluaran Pu Sindok sebagai ibukota baru dari Kerajaan Medang
Kemudian pendapat kedua mengatakan bahwa candi ini merupakan peninggalan dari masa kerajaan Majapahit. Pendapat ini di lontarkan karena lokasi candi ini tak jauh dari Trowulan. Dan hingga tahun 1909 Jombang maih merupakan bagian dari Kabupaten Mojokerto. Berdasarkan fakta tersebut, banyak yang berpendapat bahwa Jombang masih termasuk dalam ranah Ibu Kota Majapahit. Oleh karenanya Candi Pundong diperkirakan sebagai peninggalan Majapahit

Sabtu, 15 November 2014

Candi Pundong Gapura Jombang


Candi Pundong secara administratif terletak di Desa Pundong, Kecamatan Diwek, Jombang. Lokasi candi ini berada di halaman belakang ramah salah seorang warga Pundong. Pada lokasi candi tidak dijumpai petunjuk apa pun, oleh karenanya untuk menuju candi ini sebaiknya bertanya pada warga setempat. Dari Jombang Candi Pundong dapat dituju melalui rute: Jombang – Bypass Basuki Rahmad – perempatan lampu merah jalan Pattimura ke selatan – Desa Pandanwangi – Desa Pundong.
Candi Pundong tersusun dari batu bata. Kondisi candi ini sudah tidak utuh lagi, hanya menyisakan kaki candi berdenah persegi dengan ukuran 495 cm x 495 cm. Pada bagian tengah candi terdapat sumuran berbentuk persegi. Pada sumuran tersebut pernah ditemukan peripih dari batu andesit.
candi pundong diwek jombang
candi pundongpelipit kaki candi
Candi Pundong ditemukan pada pertangahan tahun 2007. Sebelum ditemukan candi ini terpendam di dalam tanah, oleh karena itu kini letak candi ini berada dalam kotak galian dengan kedalaman satu meter dari permukaan tanah.
Kesejarahan Candi Pundong masih simpang siur. Hingga kini belum ada keterangan apa pun yang menerangkan mengenai candi ini. Secara umum hanya ada dua pendapat mengenai kesejarahannya. Pendapat pertama manyatakan bahwa Candi Pundong merupakan peninggalan dari masa pemerintahan Pu Sindok raja Kerajaan Medang periode Jawa Timur. Pendapat ini didasarkan pada lokasi Desa Pundong yang terletak tidak jauh dari Desa Watu Galuh. Toponim “Watu Galuh” tercatat dalam beberapa prasasti keluaran Pu Sindok sebagai ibukota baru dari Kerajaan Medang (Mataram Kuno). Di Desa Watu Galuh sendiri memang banyak ditemukan artefak seperti gerabah dan keramik kuno dari masa klasik. Akan tetapi toponim “Watu Galuh” tidak hanya dijumpai pada desa itu saja. Di Jombang ada wilayah lain yang juga memiliki kemiripan dengan toponim “Watu Galuh” yakni Kecamatan Megaluh. Dilihat dari lokasinya yang berada di tepian Sungai Brantas tampaknya Megaluh lebih cocok jika diposisikan sebagai sebuah ibu kota kerajaan.
Pendapat ke dua mengenai Candi Pundong menyatakan bahwa candi ini merupakan peninggalan dari masa Kerajaan Majapahit. Pendapat ini didasarkan pada lokasinya yang tidak jauh dari Trowulan (ibu kota Kerajaan Majapahit di Mojokerto). Hingga Tahun 1909 Jombang masih merupakan bagian dari Kabupaten Mojokerto. Saat itu Jombang masih merupakan wilayah setingkat kawedanan yang areanya meliputi Jombang sekarang ditambah Kecamatan Trowulan (sekarang masuk wilayah Mojokerto). Berdasarkan fakta tersebut, banyak yang berpendapat bahwa Jombang masih termasuk dalam ranah Ibu Kota Majapahit. Oleh karenanya Candi Pundong diperkirakan sebagai peninggalan Majapahit.

Jumat, 15 November 2013

Tim Purbakala Temukan Kotak Hitam di Galian Candi Pundong

Jurnalis - Tritus Julan


JOMBANG - Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan, Mojokerto mulai melakukan penggalian di atas situs candi di Desa Pundong Kec Diwek. Dalam penggaliannnya yang sempat tertunda tiga bulan itu, ditemukan kotak hitam. Sayangnya saat ditemukan, kotak hitam ini dalam kondisi kosong.
Kuswanto, Ketua Tim Penggalian dari BP3 Trowulan mengatakan, dalam penggalian tahap pertama ini, tim menemukan benda yang sering disebut sebagai 'Pripih' itu. Namun menurut dia, tim tak menemukan isi apapun dalam kotak tersebut. "Seharusnya, dalam kotak hitam ada benda logam yang berisi sejarah bagaimana candi ini dibangun. Tapi saat tim kami menemukan benda itu, tak satupun logam yang ada di dalamnya," kata Kuswanto.Ia sendiri menduga, kosongya kotak hitam ini karena sebelumnya telah ada orang yang menemukan candi ini, berikut kotak hitam yang menjadi petunjuk sejarah atas candi yang ditemukan Sonhaji itu. Namun ia masih ragi-ragu menyebut kapan isi kotak hitam tersebut hilang. "Yang jelas, kotak hitam selalu berisi logam yang ada tulisan sejarah di dalamnya. Kemungkinan besar, sebelum ditemukan Sonhaji, candi ini sebelumnya juga telah ditemukan pada zaman Belanda. Dan isi kotak hitam ini telah dicuri," tebaknya.Ia sendiri yakin jika sebelum ditemukan Sonhaji pertengahan Agustus lalu itu, telah ada pihak lain yang pernah menemukan candi yang terbuat dari batu bata itu. Tengarai itu muncul dari hasil penggalian yang juga tak menemukan atap candi, dan diduga atap candi ini juga menjadi sasaran pencurian. "Harusnya di Candi Pundong ini ada atapnya. Namun saat kami menggali, atap ini sudah raib. Dan kondisi bangunan bagian atas candi telah rata," terangya.Hilangnya isi kotak hitam Candi Pundong ini juga menyulitkan tim untuk mengetahui sejarah bagaimana candi ini dibuat, termasuk tahun pembuatan candi. Hanya saja, Kuswanto menduga jika candi yang berukuran 4X4 meter ini adalah peninggalan Kerajaan Majapahit. "Dari struktur bangunan dan bentuk batu bata, bangunan ini mirip bangunan suci yang ada pada masa Kerajaan Majapahit. Tim sampai saat ini masih terus meneliti struktur dan mencari prasastinya. Kami juga mencoba melakukan penggalian baru di sekitar areal penemuan untuk mencari bangunan lain," tukas Kuswanto.Disinggung soal rencana selanjutnya setelah candi ini rampung digali, Kuswanto mengaku masih menunggu hasil penelitian seluruhnya. Menurut dia, tim ahli akan menentukan langkah selanjutnya, apakah bangunan ini akan di pugar atau di tanam. "Kita tunggu saja rekopmendasi selanjutnya dari tim ahli," pungkasnya.

Kamis, 15 November 2012

Candi Pundong : Pendermaan Sang Pangeran


Candi Pundong merupakan salah satu candi peninggalan Kerajaan Mataram Kuno atau yang juga disebut Kerajaan Mdang yang tersisa di Jombang. Lokasinya pun tak jauh dari Watugaluh, yang dulunya merupakan ibukota kerajaan yang didirikan Mpu Sindok di Jombang.

Foto Lawas Candi Pundong


Terletak di pekarangan belakang rumah warga bernama Pak Sonhaji, Candi Pundong bertempat di Dusun Watutangi, Desa Pundong, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Karena faktor lokasi inilah, Candi Pundong juga disebut Candi Watu Tangi karena berada di Dusun Watu Tangi yang merupakan bagian dari Desa Pundong.



Rute menuju Candi Pundong ini cukup mudah, meski tidak ada petunjuk penanda arah sama sekali untuk mencapainya. Dari arah Ringin Conthong ke selatan mealui jalan Hasyim Asyari. Lurus saja ke arah Makam Gus Dur. Sebelum sampai makam Gus Dur, ada perempatan Diwek, lampu merah belok ke kanan menuju ke barat. Lurus Saja hingga melewati Pabrik Plywood, lurus lagi sampai di depan gapura Desa Brambangan.

Kediaman Bapak Sonhaji

Seberang Masjid Thoriqotul Jannah

Di seberang gapura Desa Brambangan ada gang masuk menuju Desa Pundong. Belok kiri masuk ke gang Desa Pundong hingga ada jalan kecil menuju Masjid Thoriqotul Jannah. Untuk jelasnya mungkin bisa bertanya pada penduduk setempat, pastinya Candi Pundong berada di belakang rumah Pak Sonhaji yang tepat di seberang Masjid Thoriqotul Jannah. Kita pun bisa memarkir kendaraan di halaman masjid maupun di halaman samping kediaman Pak Sonhaji.

Berlarian di Halaman Masjid

Menikmati Suasana

Candi Pundong, berada di dekat kandang ayam belakang rumah Pak Sonhaji. Beliaulah yang menemukan candi itu, dan merawatnya hingga kini. Candi ini berbentuk persegi berukuran 4,95 m x 4,95 m dan berbahan dasar bata kuno dengan karakteristik batu bata yang lebih besar dari ukuran bata zaman modern.

Jalan masuk menuju Candi Pundong

Parkiran Motor


Candi Pundong Dekat Kandang

Kondisi Candi Pundong sudah tak utuh lagi, banyak bata berserakan di sekitar candi. Saat ditemukan, atap candi sudah hilang sehingga bangunan candi rata dengan tanah. Meski hanya menyisakan bangunan datar yang ada di permukaan tanah, diperkirakan candi ini sebenarnya masih memiliki badan candi sedalam 9 meter ke bawah yang masih terkubur dalam tanah.

Foto Lawas : Warga di Candi Pundong


Keyakinan ini disebabkan karakteristik candi-candi di Jombang yang biasanya masih terkubur ke dalam tanah. Karakteristik khas ini terbentuk akibat letak Jombang yang berada di dataran rendah sehingga banyak bangunan kuno terpendam di dalam tanah akibat banjir lumpur dan bencana alam berupa gunung meletus yang pernah melanda wilayah Kota Santri saat masa Kerajaan Mdang berdiri.

Siluet Candi dalam genangan

Menerima penjelasan dari Tim Arkeolog

Candi Pundong sendiri, selalu tergenang air di musim hujan sehingga tidak bisa dilihat bentuknya saat dikunjungi di musim basah. Sedangkan bila saat curah hujan tak terlalu tinggi, kotak di tengah candi masih digenangi air sehingga sering dikira sumur oleh para peneliti.



Disarankan kunjungan dilakukan di muslim kering supaya bisa melihat di dalam dasar lubang tengah candi. Memang, di tengah candi ada lubang yang juga berbentuk persegi, yang biasanya merupakan tempat disimpannya peripih abu jenazah tokoh yang dicandikan. Jombang City Guide akan mengupdate foto setelah datangnya musim kemarau.
Semoga Allah Meridhoi, doakan. 

Peripih Candi

Karena ditemukan peripih di kedalaman dua meter dari lubang candi, dipastikan candi ini adalah candi pendermaan. Pendermaan, artinya candi tempat penyimpanan abu jenazah seorang tokoh yang dicandikan di candi terkait. Tentunya seorang tokoh yang dibangunkan candi adalah tokoh penting, bangsawan, ataupun anggota keluarga kerajaan.


Peripih yang ditemukan, terbuat dari batu andesit yang berbetuk seperti kubus namun dengan tutup menyerupai limas. Peripih sendiri, ibaratnya adalah nyawa dari candi. Peripih juga semacam kotak hitam yang memang warnanya hitam juga sih sebuah candi yang berisi segala informasi, logam tanda kerajaan maupun abu jenazah tokoh yang dicandikan.


Di peripih yang ditemukan di Candi Pundong, abu di dalamnya sudah tidak ada dan isinya kosong. Bisa jadi abunya tumpah atau hanyut terbawa genangan air mengingat candi ini selalu tergenang air selama musim hujan. Sedangkan logamnya hilang karena dicuri oknum yang tak bertanggung jawab.

Kotak Hitam Candi

Kosong

Karena petunjuk berupa logam tanda kerajaan maupun catatan lain pun nihil. Karena tidak ada catatan sama sekali, para ahli sejarah kesulitan menemukan angka tahun sehingga  kisah sejarah mengenai candi ini masih dalam perdebatan.

Ada lubang di atasnya

Namun berdasarkan kesimpulan dari Laskar Mdang, candi ini diperkirakan merupakan candi pendermaan seorang pangeran atau putra raja Kerajaan Mataram Kuno. Kesimpulan ini didapatkan berdasarkan uji karbon radioaktif dari artefak yang ditemukan di candi. Selain itu, letak candi yang berada tak jauh dari Watugaluh yang dulunya merupakan Ibukota Kerajaan Medang, dimana biasanya banyak tokoh dicandikan dekat dengan ibukotanya.



Sejak diresmikan tahun 2007, pemerintah Jombang sudah mengesahkan tempat ini sebagai situs cagar budaya yang dilindungi. Tampak papan peringatan dan pemberitahuan sebagai penanda lokasi ini masuk dalam benda cagar budaya.

Papan Peringatan

Bersama Mr. and Mrs. Sonhaji

Untuk melihat candi ini tidak dipungut biaya sepeser pun, dan Pak Sonhaji beserta istri dengan senang hati dan penuh keramahan menjelaskan mengenai candi yang berada di belakang rumah mereka, sambil menunjukkan foto-foto lama mengenai candi ini. Mungkin bila berkunjung, bawalah kue atau jajan buat untuk beliau berdua. 😉

Semoga selalu sehat ya Pak

Sebagai Pengurus Cagar Budaya


Meski tidak ada petunjuk arah sama sekali menuju candi maupun papan nama penanda candi, setidaknya sudah ada sebuah bangunan di samping candi yang dibangun untuk digunakan para pengunjung untuk berziarah maupun sekedar beristirahat.

'Hall' Candi Pundong


Di dalam bangunan untuk pengunjung itu, tampak ukiran kayu bertuliskan Sugeng Rawuh yang diperuntukkan bagi para pengunjung yang datang. Selain itu dipajang pula potret Kanjeng Sepuh Raden Adipati Soeradiningrat yang merupakan bupati pertama Kota Santri Jombang BERIMAN.

Potret Kanjeng Sepuh : Bupati Pertama Jombang

Candi Pundong memang kalah populer dengan Candi Rimbi di Bareng. Bentuknya pun kalah megah dan kalah ayu dengan candi pertapaan Sang Raja Airlangga itu. Namun setidaknya, Candi Pundong bisa menambah deretan candi yang tersisa di Bumi Kota Santri.


Setidaknya, meski bangunan candi tak seindah Candi Rimbi, bukan berarti kita sebagai penerus bangsa menjadi abai akan eksistensi dan kelestarian candi ini. Semoga para ahli dan Disbudpar Kabupaten Jombang berkenan mewujudkan restorasi dan eskavasi untuk candi ini sebagai bentuk sikap memberikan lebih banyak perhatian untuk benda cagar budaya yang merupakan salah satu pusaka Kota Santri tercinta ini.


Candi Pundong  / Candi Watu Tangi
Belakang Rumah Pak Sonhaji,
Seberang Masjid Thoriqotul Jannah
Dusun Watu Tangi, Desa Pundong,
Kecamatan Diwek – Kabupaten Jombang